| Tren Baju Batik sebagai busana kerja |
|
|
|
|
Busana dari kain batik yang biasa dikenakan hanya dalam acara-acara formal atau menjadi pakaian dinas bagi pegawai negeri kini kembali populer. Sejak awal tahun 2008, batik kembali tren. Berbagai jenis model busana mulai dari pakaian santai, pakaian kerja, sampai pada gaun malam menggunakan kain batik. Tren batik yang mulai bangkit di dalam negeri ternyata juga berpengaruh positif pada ekspor batik ke mancanegara. Berdasarkan data dari Departemen Perdagangan (Depdag), yang menunjukkan peningkatan ekspor dari tahun ke tahun. Pada tahun 2001, nilai ekspor batik tidak langsung tidak mencapai sekitar Rp 200 miliar, sedangkan ekspor langsung nilainya US$ 3,2 juta. Jenis batik yang paling banyak diminati pasar ekspor adalah batik untuk sarung pantai. Sementara batik yang digunakan untuk baju atau kaus, berkisar 20-30 persen dari total ekspor. Selang lima tahun ekspor batik khusus di daerah Jawa Tengah tahun 2007 sebesar US$ 29,3 juta atau naik 20,24 persen dibanding tahun 2006 sebesar US$ 24,4 juta. Nilai tersebut merupakan 36,46 persen dari total ekspor batik Indonesia tahun 2007. Sementara tujuan umum ekspor batik adalah negara AS yang menyerap 64,59 persen dari seluruh ekspor batik dunia. Urutan selanjutnya Jerman 5,39 persen, Inggris 5,20 persen, Belgia 2,75 persen dan Prancis 2,27 persen. Senada dengan Depdag, Badan Pengembang Ekspor Nasional juga mencatat perkembangan batik di Indonesia meningkat, sehingga tahun 2006 sudah mencapai 48,287 unit dengan menyerap tenaga kerja 792,285 orang dan nilai produksinya mencapai Rp 2,9 triliun. Unit batik itu tersebar di 17 provinsi di Indonesia antara lain Jawa Tengah yang pusatnya di Pekalongan. Tentang batik, kain ini memang tidak hanya ditampilkan dalam bentuk helaian. Batik bisa dimodifikasi menjadi pakaian dengan model-model terbaru atau tren fashion masa kini. Tidak hanya pakaian resmi dan kasual, batik juga bisa dikenakan sebagai hiasan interior rumah. Mulai dari gorden, sarung bantal, sampai taplak meja. "Batik bisa dikemas menjadi bentuk apa saja. Bahannya ringan dan warnanya juga natural, jadi tidak sulit untuk dimodifikasi," ujar Hartati pemilik gerai Adi Collection yang menjual batik, ketika ditemui di suatu pameran, baru-baru ini. Fleksibilitas kain tradisional ini membuat batik digemari. Tak heran, mulai dari kalangan pejabat hingga ibu rumah tangga kini mulai gemar mengenakan batik. Tentang tren itu, beberapa perancang busana terkenal pun menyikapinya dengan merancang busana dengan kain batik. Sebut saja perancang Stephanus Hamy, Didi Budihardjo, Carmanita, Tuty Cholid, Denny Wirawan, Guruh Soekarno Putra, Oscar Lawalata, dan lainnya. Guruh Soekarno Putra, kepada SP mengatakan, saat ini kalangan anak-anak muda mulai berani mengenakan batik untuk pakaian sehari-hari. Padahal biasanya, batik hanya dipakai oleh orangtua dalam acara resmi atau sekadar menjadi pakaian dinas saja. "Sekarang masyarakat sudah mencintai kebudayaan dan hasil seni sendiri. Kondisi ini sekaligus menjadi promosi bagi pengrajin batik untuk go internasional," papar Guruh. Tentang tren batik, bisa jadi tahun 1994 merupakan masa kejayaan bagi batik Indonesia. Ketika itu batik menjadi seragam wajib para pemimpin negara dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Indonesia. Perancang Busana Iwan Tirta dipercaya untuk membuat delapan busana batik, khusus untuk para kepala negara yang mengikuti KTT. Busana batik, menurut Iwan di situs Iwan Tirta Private Collection, memang merupakan seni kebangsawanan Indonesia (royal art of Indonesia). Sampai hari ini, batik tampaknya semakin memasyarakat. Kain ini bukan lagi milik para petinggi kerajaan atau negara, melainkan menjadi konsumsi masyarakat luas. Terbukti dengan menjamurnya beberapa kios batik di pusat perbelanjaan ibukota. Popularitas batik saat ini, kata Ketua Sahabat Batik Indonesia, Neneng Iskandar dalam sebuah seminar tentang batik di Jakarta baru-baru ini, masih sebatas jenis batik cetak. "Justru yang budaya kita pertama-tama yang makin hilang itu, ya batik tulis. Jangan sampai budaya batik tulis malah hilang atau diambil negara lain," ujar Neneng yang juga membuka Galeri dan Pelatihan Batik Srihana. Ketua I Himpunan Ratna Busana Noes Moelyanto Djojomartono pun memiliki pendapat senada. Perhimpunan ini bertujuan melestarikan batik dan kain nasional Indonesia. Noes menuturkan, wilayah Indonesia yang luas sesungguhnya menyimpan ragam kekayaan budaya kain nasional yang besar. IstimewaSeorang wanita sedang membatik Batik Tulis Pada kain batik, embrio kemunculannya memang berasal dari batik tulis. Awalnya, batik tulis digunakan sebagai bahan pelengkap suatu religi dan adat, serta komoditas perdagangan. Batik tulis kata Noes, juga bukan sekadar diharapkan sebagai penutup tubuh tetapi juga bernilai artistik yang dapat memberi kepuasan batin bagi pemakainya. "Pada masa lalu, batik tulis dibuat dengan menyepi, puasa, menghindari tabu, serta dengan memanjatkan harapan dan doa supaya batik bisa bermanfaat dan membawa berkah untuk pemakainya," ujarnya. Neneng mengatakan, popularitas batik tulis terkendala oleh minimnya perhatian pemerintah kepada pengrajin batik. Saat ini, pengrajin batik hanya terfokus di daerah-daerah sentra batik. Padahal, katanya, pengrajin di kota-kota besar juga memerlukan perhatian yang sama. Tentang kain batik, berapa banyak yang dipunyai Indonesia? Bila ingin melihatnya, cobalah sesekali melihat koleksi kain di Museum Tekstil Indonesia yang terletak di kawasan Tanah Abang Jakarta Pusat. Koleksi kain yang ada di museum ini berjumlah 1.737 dan, sebagian besar merupakan kain batik. Setidaknya terdapat 13 belas koleksi kain batik tulis yang berasal dari Jambi, Palembang dan Bengkulu. Kemudian Sumedang, Banten, Garut, Pekalongan, Kudus, Tuban, Solo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Bali. Menurut Instruktur Batik Sukrismini, motif batik klasik, seperti parang, kawung, ceplok, semen, dan triom, banyak diadopsi oleh desainer batik masa kini. Karenanya, motif batik lama tersebut tetap hidup karena semakin banyak peminatnya, terutama yang berjenis batik tulis. "Walau harganya mahal, bisa mencapai dua juta rupiah, batik tulis bermotif klasik semakin dicari masyarakat. Mungkin karena menggunakan pewarna alam dan kain pilihan, seperti kain cap cen atau mori biru," ucapnya. Mengenai harga batik tulis yang relatif mahal, menurutnya, disebabkan oleh tingkat kesulitan yang rumit dan waktu produksi yang lama. Harga yang mahal, ternyata juga dibanderol oleh Allure Batik yang menerapkan pembuatan batik dengan memadukan batik tulis dan batik cetak. |
| < Prev | Next > |
|---|
Daftar Semua Produk |
|
|
Advanced Search |
|
| Belanjaan Anda..: | |
| Keranjang Belanja Anda Kosong. |
| Islamic Boutique |
| DuniaBatik |
| Solusi Kesehatan Byrru.Com |
| Situs Murah |
| Grosir Batik & Grosir Busana Muslim |
